Selasa, 26 April 2016
Prosa
TIMUN MAS
Alkisah ada sebuah rumah kecil di pinggir hutan rimba
hiduplah seorang perempuan bernama Mbok Dhadap yang berusia paruh baya yang
hidup sebatangkara tanpa teman dan saudara. Mbok Dhadap sangat mendambakan
kehadiran seorang anak untuk menemaninya. Setiap hari ia berdoa agar
mendapatkan seorang anak untuk menemaninya.
Suatu hari ketika
sedang mencari kayu di hutan, Mbok Dhadap bertemu dengan Raksasa penguasa hutan
rimba tersebut yang gemar memakan manusia. Mbok Dhadap gemetar menahan takut,
karena tak kuasa menahan rasa takut, Mbok Dhadap tidak sadar bahwa kain
jaritnya basah karena kencing. Raksasa itu tertawa lebar, suaranya bergemuruh
memenuhi angkasa dan memekakkan gendang telinga. “Hua..ha...ha...
GGGrrrrrrrhhhhhh.....!!!!!, Hai Perempuan Tua !!! kau jangan takut padaku...
mendekatlah aku ingin menitipkan sesuatu untukmu....” Mbok Dhadap tertunduk,
masih menahan rasa takut yang tak terkira. “Raksasa... kau jangan memakan aku,
aku sudah tua....” Lagi-lagi Raksasa itu tertawa... “Hua..ha....ha... aku tidak
doyan daging perempuan tua sepertimu, selain tidak enak rasanya, aku yakin
pasti banyak kumannya....hi.... ngeri.... Hua..ha...ha....” Mbok Dhadap mulai
tenang, karena mengetahui Raksasa itu tidak akan memakannya. “Kau benar sekali
wahai Raksasa..., aku memang jarang mandi, sehingga pasti banyak kumannya, kau
akan sakit bila memakan aku... apa yang hendak kau titipkan kepadaku Wahai
Raksasa ?” Sang Raksasa kembali tertawa.. “Hua..ha... ha... Mbok Dhadap kau
lucu sekali ternyata... aku mau menitipkan seorang bayi manusia kepadamu, tapi
dengan syarat bahwa 15 tahun lagi anak ini akan kuambil untuk kujadikan
mangsa... apakah kau sanggup memenuhi syarat itu??? Mbok Dhadap hanya terdiam,
hatinya sebenarnya gembira mendapat tawaran itu, akan tetapi bagaimana kalau
Raksasa itu mengambil anak itu kelak??? Raksasa itu menggeram....
“GGGrrrrrrhhhhhh..... Bagaimana Mbok Dhadap??!!
Kalau kau tidak
sanggup, anak ini akan ku buang!!!!” Mendengar itu seketika Mbok Dhadap
kaget... “i..iii..yaaa!!!! aku sanggup memenuhi persayaratan itu, sekarang
serahkan bayi itu kepadaku...”. Akhirnya Raksasa itu menyerahkan seorang bayi
perempuan yang mungil dan cantik, kulitnya bersih, Mbok Dhadap terpukau melihat
bayi perempuan itu. “HHHHmmmmmmhhh... cantiknya bayi ini....” “GGgrrrrrhhhh...
Ingatlah Mbok Dhadap, 15 tahun lagi aku akan datang untuk mengambil anak ini...
ingatlah itu Mbok Dhadap... HHHHhmmmhhhh.... Hua..ha..ha...” kemudian Raksasa
itu pergi meninggalkan Mbok Dhadap dan bayi itu. *** Mbok Dhadap memberi nama
bayi perempuan itu Timun Mas, karena kulitnya yang bersih dan berkilau laksana
emas. Mbok Dhadap sangat menyayangi Timun Mas, Dia merawatnya dengan penuh
kasih dan cinta. Mbok Dhadap tidak merasa sepi lagi, ada Timun Mas yang
menemaninya sekarang. Meskipun bukan anak kandungnya sendiri, Mbok Dhadap telah
menganggap Timun Mas sebagai anaknya. Timun Mas memanggil Mbok Dhadap dengan
sebutan Biyung yang berarti Ibu. Waktu terus berjalan tanpa henti, tanpa terasa
15 tahun sudah berlalu.
Timun Mas tumbuh menjadi sosok gadis yang anggun dan rupawan,
parasnya cantik, rambutnya yang lebat terurai panjang sehingga semakin
memancarkan aura kecantikannya. Menjelang waktu yang telah dijanjikan Mbok
Dhadap merasa sedih dan bingung lalu memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa
agar menyelamatkan Timun Mas. Hingga suatu ketika doanya dijawab lewat mimpi.
Dalam mimpinya, Mbok Dhadap diminta memberikan tiga jenis barang untuk dibawa
Timun Mas ketika dikejar Raksasa jahat itu yaitu biji mentimun, jarum dan
sepotong terasi. Mbok Dhadap segera menyiapkan ketiga barang tersebut untuk
diberikan kepada Timun Mas. Akhirnya dengan rasa sedih yang amat sangat, Mbok
Dhadap menceritakan permasalahan itu kepada Timun Mas. “Anakku, Timun Mas...
Biyung tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkanmu, 15 tahun yang lalu
Raksasa itu menitipkanmu kepadaku, sekarang waktu itu telah tiba... Raksasa itu
akan datang membawamu... Timun Mas jaga dirimu Nak...” Ujar Mbok Dhadap sambil
terisak menangis.
Timun Mas merasa bersedih karena harus meninggalkan biyungnya
sendiri, ia tak sampai hati meninggalkan orang yang telah merawatnya dari kecil
hingga dewasa tersebut. “Biyung... aku mau di sini saja menemani Biyung,
merawat Biyung, aku tidak takut kepada Raksasa itu Biyung...” Timun Mas terisak
meneteskan air mata, kemudian keduanya berpelukan erat. Mbok Dhadap hanya
menghela nafas panjang, ada kegalauan yang sangat di dalam hati Mbok Dhadap.
“Timun Mas anakku, jangan kau khawatirkan Biyung, Raksasa itu tidak akan
memangsa biyung, karena Dia hanya menginginkanmu, sudah...........” Belum
sampai kalimat Mbok Dhadap selesai tiba-tiba terdengar suara keras dari luar
rumah.... “GGGGggggrrhhh!!!!!! Mbok Dhadap!!!! Keluarlah!!!! Aku datang menagih
janji kepadamu!!!, serahkan anak itu kepadaku untuk kumangsa!!!! Mbok Dhadap!!!
Keluarlah!!!” “Timun Mas anakku, cepatlah kau pergi Nak!!!... tidak ada waktu
lagi, segera pergilah lewat pintu belakang... ingatlah baik-baik pesan
Biyung... pertama kali sebarkan biji mentimun ini mana kala Raksasa itu
mendekat,
lalu jika Ia mendekat lagi lemparkan jarum ini kepada Raksasa
itu dan jika ia masih mendekat lagi lemparkan terasi ini anakku, cepatlah kau
pergi anakku, selamatkanlah dirimu, percayalah... Biyung akan baik-baik saja”.
Dengan penuh rasa haru dan sedih Timun Mas segera berlari keluar dan
meninggalkan rumah Mbok Dhadap untuk menyelamatkan dirinya. Sedangkan Mbok
Dhadap keluar menemui Raksasa jahat yang lapar itu. “Ada apa Raksasa??,
bukankah masih lama waktu 15 tahun itu???” Mbok Dhadap mencoba mengulur waktu agar
Timun Mas dapat selamat dari ancaman Raksasa itu. “Ggggrrgggghhhh!!!!, aku
tidak mungkin salah... hari ini adalah genap 15 tahun semenjak aku menyerahkan
bayi itu kepadamu, sekarang serahkan bayi itu kepadaku!!!!” “Dia tidak ada di
sini Raksasa, percayalah, dia sudah mati beberapa tahun lalu...”
Mbok Dhadap mencoba
membohongi Raksasa itu. “Tidak Mungkin, aku masih bisa mencium bahwa bayi itu
masih hidup, sekarang serahkan kepadaku atau aku akan memaksamu !!!” dan saat
itu, Raksasa melihat ada seorang gadis yang berlari kencang meninggalkan rumah
itu. “GGGGrrrrrrrrrGggghhhhh!!! Jangan kira kau bisa membohongiku Mbok Dhadap,
itu dia bayi itu!!!, wahh anak itu pasti lezat sekali.... aku akan mengejarnya
!!!” Raksasa itu segera berlari mengejar Timun Mas tanpa menghiraukan Mbok
Dhadap yang menjerit histeris memohon agar Raksasa itu tidak mengejar Timun
Mas. *** Timun Mas berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Mbok Dhadap,
namun sekencang-kencangnya Timun Mas berlari, kecepatannya tidak sebanding dengan
kecepatan lari Raksasa itu dengan terengah-engah Timun Mas meilhat bahwa
Raksasa itu kian mendekat. “Celaka, Raksasa itu cepat sekali larinya...
bagaimana ini???” Timun Mas bingung dan takut dan pasrah. Raksasa itu semakin
dekat, semakin dekat dan sekarang hanya berjarak puluhan meter dari Timun Mas
yang masih mencoba berlari.
Di tengah kebingungan
dan rasa takutnya, Timun Mas ingat pesan Biyungnya untuk menyebarkan biji timun
pertama kali manakala Raksasa itu mendekat.Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera
saja Timun Mas menyebarkan biji mentimun itu ke hadapan Raksasa itu. Ajaib,
seketika itu juga, biji timun yang disebar oleh Timun Mas itu berubah menjadi
hutan mentimun yang dengan buah yang ranum dan segar sehingga membuat Raksasa
itu terpana melihat keranuman buah mentimun yang membentang dihadapannya.
“Wah.... ranum benar mentimun ini, kebetulan aku sedang haus dan lapar... “
Raksasa seperti terhipnotis sehingga memutuskan untuk menikmati buah mentimun
itu tanpa mengingat lagi bahwa Ia sedang mengejar Timun Mas.
“Kres!!..Kres!!!... Nyam, Nyam.... Wah !!! Segar sekali mentimun ini !!!,
huahhhhh!!! Nikmat sekali...”. Melihat keajaiban itu.
Timun Mas tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ia terus berlari
kencang meninggalkan Raksasa yang kelaparan itu. Waktu terus berlalu, Raksasa
itu rupanya terlena dengan kesegaran buah mentimun yang menghampar di
hadapannya, sekian lama ia memakan buah mentimun itu kemudian ia tersadar dari
pengaruh hipnotis buah mentimun itu. “Hua...... kurang ajar, rupanya aku terhipnotis
hutan mentimun ini.... di mana anak itu.... Hai, berhenti !!!” Raksasa itu
segera berlari mengejar Timun Mas. Tak berapa lama waktu berjalan, Raksasa itu
telah berhasil mendekati Timun Mas kembali. Karena Raksasa itu kian mendekat,
Timun Mas segera melemparkan jarum itu kepada Raksasa itu. Benar-benar ajaib,
jarum yang dilempar itu seketika berubah menjadi hutan bambu yang lebat dan
penuh duri, sehingga menyulitkan Raksasa itu untuk mengejar Timun Mas. Melihat
itu, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Raksasa jahat
yang terjebak dalam hutan bambu yang lebat dan penuh duri itu. Harapannya hanya
satu yaitu agar lolos dari cengkeraman Raksasa jahat itu. Timun Mas terus saja
berlari menjauh, sedangkan Raksasa jahat mengalami kesulitan untuk menembus
hutan bambu yang penuh duri itu, namun dengan kekuatannya, akhirnya Raksasa itu
berhasil menembus hutan bambu berduri itu dan kembali mengejar Timun Mas. Tak
berselang lama, Raksasa itu telah berhasil mendekati Timun Mas Kembali. Melihat
itu semua, Timun Massudah pasrah dan putus asa dan yakin bahwa Raksasa itu akan
berhasil menangkapnya. “Oh Tuhan... apakah benar ini takdirku ? Tertangkap
Raksasa dan mati di tangannya..... Oh Tuhan tolonglah aku... Siapa yang akan
merawat Biyung nanti ?... Oh Tuhan......” Timun Mas Menangis sedih. Di
sela-sela keputus asaannya itu, tiba-tiba Timun Mas teringat bahwa ia masih
mempunyai satu senjata lagi yaitu sepotong terasi, sehingga begitu Raksasa itu
mendekat, Timun Mas segera melemparkan sepotong terasi itu kepada Raksasa itu.
Benar-benar ajaib, sepotong terasi yang ia lemparkan berubah menjadi sebuah
lautan lumpur yang dalam, sehingga Raksasa itu terperosok ke dalamnya.
Semakin lama Raksasa itu berontak, semakin tenggelam pula
tubuhnya, hingga akhirnya tubuh Raksasa itu benar-benar tenggelam dan matilah
Raksasa jahat itu ditelan lautan lumpur tersebut. Timun Mas menghela nafas
panjang, rasa lega, letih dan bahagia menyelimuti hatinya. Tak henti-hentinya
Timun Mas bersyukur karena doa dan harapannya dikabulkan Tuhan, Timun Mas yakin
bahwa Tuhan akan mengabulkan setiap doa mahluknya apabila berdoa dengan tulus
dan kesungguhan hati dan berusaha dengan keyakinan penuh. Tanpa menunggu lama
Timun Mas memutuskan kembali kerumah Mbok Dhadap dan akhirnya mereka berdua
hidup bahagia dalam nuansa kasih sayang antara orang tua dan anak.
Puisi
“CINTA”
Di kesepian malam aku sendiri
Termenung dibawah cahaya rembulan
Pucuk-pucuk daun meliuk indah
Mengikuti irama angin perlahan
Angin…., Aku hargai kau
menghiburku
Memang tidak ingin aku
berlama-lama
Larut dengan gelapnya malam
Terombang-ambing oleh kelamnya
awan
Angin…., Tolong katakan pada
bintangku
Aku rindu dan berharap dia hadir
disini
Dengan segala ketulusan cintanya
Ingin aku mengajaknya bernyanyi
Menari, berdansa berdua
Angin…, katakanlah padanya
Aku perlu sayangnya,sejuta
kasihnya
Ingin aku menikmati indahnya
malam ini
Dengan kehangatan peluk mesranya
Angin…, untuk yang terakhir
Katakanlah padanya
Aku benci dengan kesendirian ini
Ketika aku datang
Di dunia pewayangan cinta
Cuma satu yang aku bawa
Perasaan kasih di dalam dada
Yang bisa merubah satu wacana
Menjadi cerita panjang
Yang berbelit susah
mengambarkannya
Tak ada alasan lain tentang cinta
Karena hanya satu yaitu kasih
Kecuali hanya mengada-ada
Kalau ada aku tak percaya
Alasan itu dipaksakan
Dan akan aku katakan
Sungguh malang nasib mereka
Karena tak beda dengan si penjaja
Cintaku adalah rinduku
Yang dulu datang dari dalam kalbu
Bisa membawa tentram
Dalam merih kedamaian hidup
Dalam remang cahaya lilin
Sekilas nampak kilauan kasih
Memedarkan arti kekelabuan hati
Sesaat seolah redup
Membisakan harapan cinta dan
kerinduan
Dalam dada menyesak arti
ketidakpastian
Sesekali ingin semua cita teraih
Namun, tak dapat menembus batas
ruang
Yang semakin menjauh
Dikala sekelebat kilat menyala
Cahayanya menyilaukan mata
Bukan terang yang ku dapatkan
Namun kegelapan setelahnya
Hamparan bunga cinta menjadi
merana
Kedinginan, ingin ada yang
memetiknya
Dipandang ditaruh dalam vas bunga
Walau nantinya layu
Namun hidupnya menjadi berarti
Menikmati semua tujuan yang
dicapai
ANALISIS BAHAN KAJIAN
Puisi atau sajak adalah sebuah
struktur yang kompleks, sehingga untuk memahaminya perlu dianalisis sehingga
dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Dalam hal ini,
analisis yang bersifat dikotomis, yaitu pembagian bentuk dan isi,
Sebagai suatu totalitas yang dibentuk oleh elemen atau unsur
intrinsik tertentu, puisi menurut Wellek dapat dibagi menjadi beberapa lapis,
yang meliputi:
- lapis bunyi
atau sound stratum
- lapis arti
atau units of meaning
- lapis dunia
atau realitas yang digambarkan penyair
- lapis dunia
atau realitas yang dilihat dari titik pandang tertentu
- lapis dunia
yang bersifat metafisis
6.
2. 1. Analisis Lapis Bunyi atau Sound Stratum
Lapis bunyi atau sound
stratum merupakan rangkaian bunyi yang dibatasi jeda endek, agak
panjang, dan panjang. Tetapi suara tersebut bukan hanya sebatas bunyi tanpa
arti. Melainkan suara yang sesuai dengan konvensi bahasa, disusun dengan
seksama hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara tersebut,
orang dapat menangkap artinya.
Dalam puisi ”Cinta” kita dapat mendengarkan lapis bunyi, karena
didalamnya terdapat serangkaian bunyi kata yang tersusun indah begitu rupa,
hingga bisa kita dapati efek puitisnya.
Pada bait pertama bari kesatu dan kedua, kita dapati pertanyaan
retoris dengan ritme suara liris. Kata sepi dan termenung senada dengan kata luka.:
Di
kesepian malam aku sendiri
Termenung
dibawah cahaya rembulan
Pada bait kedua baris kedua kita jumpai adanya asonansi a dan a,
yaitu pada kata:
Aku
perlu sayangnya,sejuta kasihnya
Pada bait ke 5 baris ke dua kita jumpai aliterasi u dan u,
yaitu kata :
Yang dulu ,datang dari dalam kalbu
pada tiap potong mozaik zaman
Pada bait kelima baris satu,
asonansi u dan u, yaitu pada
Cintaku adalah rinduku
Pada bait keempat, baris kesatu,
tiga, empat dan lima, terdapat aliterasi a dengan a, yaitu
pada kata,menyala,mata,dapatkan,selamanya
Dikala sekelebat kilat menyala (1)
Cahayanya menyilaukan mata (2)
Bukan terang yang ku dapatkan (3)
Namun
kegelapan setelahnya (4)
Analisis Lapis Arti atau Units
of Meaning
Puisi yang berjudul “Cinta”
menggambarkan tentang pemaknaan hidup yang disandarkan pada sebuah perjalanan
cinta.
Gambaran tentang seseorang yang dipenuhi kebimbangan, keraguan,
dalam proses pencarian sesuatu cintai, terdapat dalam bait pertama hingga
akhir.
mengapa ada sepi, pada mata yang
luka? (bait
satu)
Kata sepi dan sunyi menggambarkan
adanya kekosongan, kehampaan, dan juga keterasingan pada sebuah subjek
personal. Sedang kata mata dan hati menggambarkan
sesuatu yang bersifat konkret, bersifat wadag, jasmaniah. Yang secara alamiah
dan fitrah kemanusiaan sangat diperlukan oleh seseorang dalam menunjang
kehidupannya. Sedangkan kata luka dan duka, yang berintonasi retoris
(pertanyaan) bisa dimaknai sesuatu yang harus disembuhkan, dicarikan penawar
atau obatnya. Selain itu juga bisa dimaknai, bahwasanya luka dan duka merupakan
suatu sebab yang melahirkan adanya akibat.
Penyair juga menggambarkan, bahwasa dalam proses pencarian
tersebut pasti ada keterlibatan mencari cinta . Sebagaimana tertuang pada baris
satu:
Di
kesepian malam aku sendiri
Termenung
dibawah cahaya rembulan
Pucuk-pucuk
daun meliuk indah
Mengikuti
irama angin perlahan
Dan sebenarnya, setiap individu juga pada hakikatnya tidaklah
yakini kegalauan cinta Debenaran dan keabsahannya tersebut. Hal tersebut
digambarkan pada bait :
Aku
rindu dan berharap dia hadir disini (bait kedua)
Aku
benci dengan kesendirian ini (bait kedua)
Dalam dada menyesak arti
ketidakpastian (bait keenam)
Analisis Lapis Ketiga atau Lapis
Dunia Realitas
Lapis satuan arti menimbulkan lapis ketiga, berupa objek-objek
yang dikemukakan latar, pelaku, dan dunia pengarang. Dalam lapis ketiga
ini, pada puisi ”Surat” ada beberapa hal yang dianalisis, antara lain:
- Objek
- Dada
-Mata
Sajak ”Surat” didalamnya terdapat dua objek yaitu:
- Objek
konkret (nyata) yang berupa:
- Objek
abstrak (non immaterial) yang berupa:
- Cahaya/
cahya
- Zaman
- Teka-teki
- Pelaku
- Pelaku
pertama pada sajak ”Cinta” adalah ”aku”, dan ”aku” yang dimaksud adalah
aku universal, bukan individu peron pengarang. Tetap aku yang meliputi
pada seluruh pembacanya.
- Pelaku kedua
adalah ”Dia” dan ”Dia” disini diintreprestasikan pada ”Dia” yang berarti kekasihnya.
- Latar waktu
pada sajak ”Cinta” adalah: malam yang sepi
- Latar tempat
pada sajak ”Cinta” adalah: negeri antah brantah/ tempat
yang imajiner, hanya ada dalam rekaan pikiran.
- Latar
situasi pada sajak ”Cinta” adalah: keadaan yang mengenaskan,
menyedihkan.
- Alur Puisi:
Si aku punya permasalahan yang menjadikan dirinya diliputi
kebimbangan, keraguan dan ketidak mengertian. Namun, dalam keadaan demikian
dirinya tetap mempercayai bahwa semuanya ada jalan keluar atau solusinya. Dan,
salah satu yang dia yakini bisa dijadikan solusi dari kemelut hidupnya adalah Cinta
Sejati akan dating jika waktunya sudah tepat..
Bunyi
Dalam analisis tentang buni, kita harus mengetahui dan memahami
konsep tentang:
- Rima, yang
didalamnya terdapat aspek, (a) asonansi, (b) alitrasi dan jenis-jenis
rima.
- Irama, yaitu
paduan alunan lunak-kers, keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, yang
menimbulkan kemerduan.
- Ragam Bunyi,
seperti:metrum, ritme, euphony, cachopny, dan onomatape.
Kata
Yang meliputi pembicaraan tentang: kosakata, unsur
ketatabahasaan, masalah denotatif dan konotatif, citraan, gaya kalimat, gaya
sajak, dsb. Dalam Sajak ”Cinta” beberapa hal yang masuk kedalamnya yaitu:
- majas
personifikasi
- majas
alegori
- gaya kalimat
informatif dan deskriptif
- bersifat
konotatif
- gaya bahasa
retoris
- tatabahasa
deduktif
Sinopsis Dukuh Legetang
Sinopsis
Dukuh Legetang adalah sebuah wilayah di lembah pegunungan Dieng, berjarak sekitar 2 km ke utara dari
kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat Dukuh
Legetang adalah petani-petani yang sukses dan kaya. Berbagai kesuksesan duniawi
yang berasal dari sektor pertanian menghiasi Dukuh Legetang. Tatkala di wilayah
lain, para petaninya mengalami gagal panen, justru mereka diberikan hasil panen
yang melimpah. Kualitas buah dan sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang
lain. Namun barangkali ini
merupakan bentuk “istidraaj”, dalam artian diberikan jangka waktu oleh
Allah untuk bersenang-senang menikmati berbagai karunia Allah, lalu mereka
makin tenggelam dalam kesyirikan dan dosa hingga datanglah azab yang dijanjikan
dalam keadaan mereka tidak menyadarinya.
Masyarakat Dukuh Legetang
kebanyakannya merupakan para pelaku maksiat dan tidak pandai bersyukur.
Perjudian merajalela, anak yang berzina dengan ibunya dan beragam kemaksiatan
lain yang sangat parah di dukuh tersebut. Begitu pula minum-minuman keras yang
sangat cocok untuk wilayah dingin. Hampir tiap malam mereka mengadakan Pentas
Lengger yaitu sebuah seni tari yang dibawakan oleh para penari wanita yang
bersolek. adapun di belakang layar pentas seni tersebut, biasanya berujung
kepada perzinaan.wal'iyadzubillah.
Pada suatu malam hujan turun dengan
sangat lebat, namun masyarakat Legetang tetap tenggelam dalam kemaksiatan.
Tatkala malam itu, hujan sedikit reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”,
seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pada pagi harinya masyarakat
di sekitar Dukuh Legetang penasaran dengan suara yang amat keras tersebut.
Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka bahwa Gunung Pengamun-amun
telah terbelah (bahasa jawanya: tompal) dan belahannya itu menimpa Dukuh
Legetang.
Dukuh Legetang yang dahulunya berupa lembah, sekarang bukan
hanya rata dengan tanah, namun telah berubah menjadi sebuah gundukan tanah baru
yang menyerupai bukit. Seluruh penduduknya tewas. Gegerlah kawasan Dieng…
Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu seharusnya
menimpa wilayah di bawahnya. Namun kejadian ini bukanlah sekedar longsornya
gunung.
Antara Dukuh Legetang dan Gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapakah yang mampu mengangkat separuh gunung tersebut jikalau bukan Allah tabaroka wata’ala?
Kini diatas bukit bekas
Dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Pada tugu tersebut tertulis dengan plat
logam:
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG
SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG
PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″
Ayam Bakar Lombok Ijo
Olahan ayam merupakan olahan yang
mudah. Ayam menjadi favorit banyak orang. Ayam juga merupakan sumber protein
yang mudah diapatkan di segala tempat. Warung-warung sampai restoran bintang
lima pun banyak yang menyajikan olahan dari ayam ini. Terlebih lagi menu ayam
bakar atau ayam goreng. Menu ini ada di setiap sudut jalan, baik di siang hari
maupun di malam hari.
Menu ayam goring ataupun bakar biasanya
disajikan lengkap dengan lalap dan sambal. Rasa nikmat diperoleh jika bumbu gurih
merasuk sampai ked aging ayamnya. Serta tak lupa juga rasa sambalnya. Untuk
menu kali ini , saya akan membagi resep yang berbeda dari biasanya. Jika
biasanya ayam bakar atau goring dengan lalap sambal, maka kali ini ayam bakar
disajikan dengan sambal ijo.
Sambal ijo identik dengan masakan
Padang dengan rasa pedas yang mantap, namun kali ini akan dipadukan dengan ayam
bakar dan divariasikan demi mendapatkan cita rasa yang mantap. Ayo segera kita
intip resep ayam bakar lombok ijo berikut ini :
Bahan untuk ayam :
- 1
ekor ayam, potong menjadi 8 bagian
- 1
batang serai dimemearkan
- 2
cm lengkuas dimemarkan
- 3
lembar daun salam
- 2
sdm ketumbar
- 1
buah gula jawa ukuran kecil, diiris tipis-tipis
- 5
sdm kecap manis
- 6
siung bawang putih
- 12
siung bawang merah
- Garam
secukupnya
- Minyak
secukupnya
Bahan
sambal lombok ijo :
- 10
buah cabai hijau segar
- 1
buah tomat hijau ukuran sedang
- 6
siung bawang merah
- 3
siung bawang putih
- Garam
secukupnya
- Minyak
untuk menumis
Cara
membuat :
- Cuci
bersih ayam dengan air mengalir, bubuhi dengan garam biarkan selama 15
menit
- Haluskan
bumbu bawang merah, bawang putih, garam dan gula jawa
- Tumis
bumbu halus dengan minyak panas lalu tambahkan lengkuas, serai,daun
salam. Masukkan ayam ke dalam bumbu dan masak sampai ayam matang
- Panggang
atau bakar ayam di atas arang atau panggangan, sisa bumbu ditambahi dengan
kecap manis digunakan untuk bumbu olesan. Bakar sampai warnanya menjadi
kecoklatan dan diolesi dengan bumbu oles. Angkat jika sudah terbakar
sempurna. Bisa dilihat dari warnanya
- Untuk
membuat sambal ijo campur semua bahan untuk bahan sambal ijo, haluskan
tapi tidak sampai halus hanya kasar saja
- Sajikan
ayam bakar dengan disirami sambal ijo di atasnya
Hmmm sajian ayam bakar yang beda dari biasanya
dudah siap disantap. Ayam dibakar dalam keadanaan sudah matang karena dimaska
dulu dengan bumbunya. Hal ini bertujuan agar ayam bakar matang sempurna dan
bumbunya lebih meresap. Saat membakar olesi dulu panggangan dengan margarine
agar ayam tidak lengket saat dibalik. Selamat mencoba!
7 Pakar Tokoh Sosial Budaya
1.Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi
Penerima Bintang Mahaputra Utama dari
pemerintah ini adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Pengetahuan
Kemasyarakatan (kini FISIP-UI) dan sampai akhir hayatnya dengan setia menjadi
dosen sosiologi di Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI). Ia dikenal sangat disiplin dan selalu memberi teladan konkret. Ia
ilmuwan yang meninggalkan banyak bekal ilmu pengetahuan. Sebetulnya ia sudah
purnatugas di Universitas Indonesia (UI). Tapi, karena masih dibutuhkan, ia
tetap mengajar dengan semangat tinggi. Ia memang seorang sosok berintegritas,
punya komitmen sosial yang tinggi dan sulit untuk diam. Ia orang yang tidak
suka memerintah, tetapi memberi teladan. Hidupnya lurus, bersih, dan sederhana.
Ia tokoh yang memerintah dengan teladan, sebagaimana diungkapkan pengusaha
sukses Soedarpo
Sastrosatomo.
Menurut Soedarpo, integritas itu pula yang
membuat mendiang Sultan Hamengku Buwono IX berpesan kepada putranya, Sultan
Hamengku Buwono X agar selalu mendengarkan dan meminta nasihat kepada Selo
kalau menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan. Ia orang yang tidak pernah
berhenti berpikir dan bertindak. Ia seorang dari sedikit orang yang sangat
pantas menyerukan hentikan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pantas karena ia bukan tipe
maling teriak maling. Ia orang orang bersih yang dengan perangkat ilmu dan
keteladanannya bisa menunjukkan bahwa praktik KKN itu merusak tatanan sosial.
Ia pantas menjadi teladan kaum birokrat karena etos kerjanya yang tinggi dalam
mengabdi kepada masyarakat. Selama hidupnya, Selo pernah berkarier sebagai pegawai
Kesultanan/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Staf Sipil Gubernur Militer Jakarta Raya, dan Kepala Sekretariat Staf Keamanan
Kabinet Perdana Menteri, Kepala Biro III Sekretariat Negara merangkap
Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan, Sekretaris Wakil Presiden RI Sultan
Hamengku Buwono IX (1973-1978), Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan
Rakyat (1978-1983) dan staf ahli Presiden HM Soeharto.
Ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia
setelah tahun 1959 -- seusai meraih gelar doktornya di Cornell University, AS
-- mengajar sosiologi di Universitas Indonesia (UI). Dialah pendiri sekaligus
dekan pertama (10 tahun) Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang
FISIP) UI. Kemudian tanggal 17 Agustus 1994, ia menerima Bintang
Mahaputra Utama dari pemerintah dan pada tanggal 30
Agustus menerima gelar ilmuwan utama sosiologi. Pendiri FISIP UI ini,
memperoleh gelar profesor dari Fakultas Ekonomi UI dan sampai
akhir hayatnya justeru mengajar di Fakultas Hukum UI. Ia dibesarkan di
lingkungan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Kakeknya, Kanjeng
Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat tinggi di kantor Kasultanan
Yogyakarta.
Berkat jasa sang kakek, Soemardjan-
begitu nama aslinya-mendapat pendidikan Belanda. Nama Selo dia peroleh setelah
menjadi camat di Kabupaten
Kulonprogo. Ini
memang cara khusus Sultan Yogyakarta membedakan nama pejabat sesuai daerahnya
masing-masing. Saat menjabat camat inilah ia merasa mengawali kariernya sebagai
sosiolog. "Saya adalah camat yang mengalami penjajahan Belanda, masuknya Jepang, dilanjutkan dengan zaman revolusi.
Masalahnya banyak sekali," tuturnya suatu ketika sebagaimana ditulis
Kompas. Pengalamannya sebagai camat membuat Selo menjadi peneliti yang mampu
menyodorkan alternatif pemecahan berbagai persoalan sosial secara jitu. Ini
pula yang membedakan Selo dengan peneliti lain. Mendiang Baharuddin Lopa dalam salah satu tulisannya di Kompas
(1993) menulis, "Pak Selo menggali ilmu langsung dari kehidupan nyata.
Setelah diolah, dia menyampaikan kembali kepada masyarakat untuk dimanfaatkan
guna kesejahteraan bersama." Lopa menilai Selo sebagai dosen yang mampu
mendorong mahasiswanya berpikir realistis dan mengerti serta menghayati apa
yang diajarkannya. "Pendekatan realistis dan turun ke bawah untuk
mengetahui keadaan sosial yang sesungguhnya inilah yang dicontohkan juga oleh
para nabi dan kalifah," tulis Lopa. Meski lebih dikenal sebagai guru
besar, Selo jauh dari kesan orang yang suka "mengerutkan kening". Di
lingkungan keluarga dan kampus, dia justru dikenal sebagai orang yang suka
melucu dan kaya imajinasi, terutama untuk mengantar mahasiswanya pada istilah-istilah
ilmu yang diajarkannya. "Kalau menjelaskan ilmu ekonomi mudah dimengerti
karena selalu disertai contoh-contoh yang diambil dari kehidupan nyata
masyarakat," kenang Baharuddin Lopa.
Dalam tulisan Lopa, Selo juga digambarkan
sebagai orang yang bicaranya kocak, tetapi mudah dimengerti karena memakai
bahasa rakyat. Meski kata-katanya mengandung kritikan, karena disertai humor,
orang menjadi tidak tegang mendengarnya. Menurut putra sulungnya, Hastjarjo,
Selo suka main. "Setiap hari selalu memainkan tubuhnya berolahraga senam.
Karena terkesan lucu, cucu-cucu menganggap bapak sedang bermain-main dengan
tubuhnya," tambahnya. Sebagai ilmuwan, karya Selo yang sudah
dipublikasikan adalah Social Changes in Yogyakarta (1962) dan Gerakan 10 Mei
1963 di Sukabumi (1963). Penelitian terakhir Selo erjudul Desentralisasi
Pemerintahan. Terakhir ia menerima Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dari Universitas
Gadjah Mada (UGM) pada puncak peringatan Dies Natalis Ke-52 UGM
tanggal 19 Januari 2002 diwujudkan dalam bentuk piagam, lencana, dan sejumlah
uang.
Pendapat Beliau : Kebudayaan berarti semua hasil karya, rasa, dan cipta
masyarakat.
2. Paul
Cezanne
Lukisan Paul Cezanne yang berjudul "Still Life with Jug and
Drapery" laku terjual US $ 60,205 juta pada bulan Mei 1999. Itu salah satu
karya dari beberapa karya Paul Cezanne yang memiliki nilai tertinggi. Namun
lukisannya yang memiliki harga tertinggi dan sangat fantastis yang berjudul
"The Card Player" yang ditampilkan diatas pada halaman ini, terjual
terakhir sekitar US $ 260 juta / Rp 2,86 triliun. Lukisan karya Paul
Cezanne ini merupakan lukisan termahal yang pernah dijual, yaitu sekitar 260
juta dollar pada April 2011. Pembeli lukisan ini adalah Royal Family of Qatar.
Paul Cézanne lahir di
Aix-en-Provence, salah satu bagian dari daerah selatan Perancis pada 19 Januari
1839 dan meninggal 22 Oktober 1906 di wilayah kelahirannya pada usia
67 tahun. Masa 1859 hingga 1861 dihabiskan Cézanne untuk mendalami bidang hukum
di Aixm. Namun bidang hukum ditinggalkannya, kemudian pindah ke Paris untuk
mengembangkan dunia seni lukis.Cézanne jarang sekali memamerkan karyanya,
karena terus menerus di tolak oleh kurator Paris Salon dan kemudian Cezanne
terus bekerja dalam keterasingan di Provençe, jauh dari Paris. Walaupun
demikian dia tetap sering melukis.
Cezanne adalah pelukis Perancis yang
hidup pada masa Post Impresionisme. Karyanya merupakan peralihan dari konsep
seni abad 19 menuju kebebasan mutlak seni pada abad 20. Jiwanya yg inovatif dan
selalu melakukan perubahan tercermin pada karyanya, pemberontakan terhadap
paham impresionisme yang saat itu sedang populer. Hal ini menjadi inspirasi
seniman pembaharu seperti gaya kubisme Picasso, meskipun gaya Cezanne sendiri
belum bisa disebut kubisme.
Karyanya juga menginspirasi seniman fauvisme. Bagi kalangan seni modern
pada abad 20, Cézanne adalah bapak konsep kesenian modern. Pablo Picasso
memanggilnya "Bapak bagi kita semua".Pada 1906, Cézanne jatuh pingsan
saat membuat lukisan di luar ruangan dalam keadaan badai. Seminggu kemudian,
pada 22 Oktober, ia meninggal akibat pneumonia.
3. Prof Dr
Paulus Wirutomo sang Sosiolog Pendidikan
Prof Dr Paulus
Wirutomo sosiolog & guru agung FISIP Kampus Indonesia. Cowok kelahiran
Solo, 29 Mei 1949, ini menamatkan sarjana sosiologi dari Kampus Indonesia,
1976. Memperoleh S2 bagian Perencanaan Sosial dari University College of
Swansea Wales, Inggris, 1978 & S3 bagian Sosiologi Pendidikan dari State
University of New York at Albany, USA, 1986. Ia menjabat Ketua Departemen
Sosiologi FISIP UI, 2005-2009 & Ketua Acara Magister Manajemen Pembangunan
Sosial Pascasarjana UI, 1997-sekarang. Jelasnya, pembangunan sosial waktu
ini tetap disalahpahami. Bagi pemerintah, pembangunan sosial cuma dianggap yang
merupakan bagian pembangunan saja. Meski faktor ini tak sepenuhnya salah, tapi
pula tak sanggup dibenarkan.
Pasalnya, kata
Paulus, pengertian pembangunan sosial yg benar itu lebih dari sekadar
pembangunan bidang. Dalam pembangunan sosial, mesti termuat peningkatan
hubungan & jalinan sosial dalam warga. Tidak Dengan berjalan mutu interaksi
sosial dari langkah pembangunan sosial yg diambil, susah menyampaikan adanya
pembangunan sosial. Tuturnya, bukan cuma pemerintah, tapi sebahagian agung
kita tetap mendalami pembangunan sosial itu sekadar charity yg tak membuahkan
duit. "Mengikuti logika pembangunan sosial yang merupakan bidang, sehingga
pembangunan sosial ini membutuhkan masukan berupa penyediaan budget, butuh
pembiayaan. & mengikuti pemahaman pembangunan sosial juga sebagai charity,
sehingga pembangunan sosial itu dianggap juga sebagai suatu langkah yg tak
membuahkan apa pula. Atau paling tak output-nya dinyatakan tak membuahkan
duit," katanya. Bahkan, menurut ahli sosiologi pendidikan itu,
pendidikan, sama halnya bersama kesehatan & agama yg pula dianggap pembangunan
sosial, terkadang dianggap sbg budget yg habis terpakai tidak dengan membuahkan
duit. Padahal, ujarnya, pembangunan pendidikan itu dapat membuahkan peningkatan
mutu sumber daya manusia. Sumber daya manusia yg meningkat inilah yg nantinya
di harapkan bakal jadi pendorong terjadinya peningkatan mutu jalinan
sosial.
Ditanya
berkenaan adakah business yg telah dilakukan utk memberikan pemahaman yg betul?
Paulus mengemukakan bahwa Departemen Sosiologi UI telah lebih dari 10 thn
terakhir sebenarnya telah memberikan pemahaman yg betul, lewat pembukaan acara
manajemen pembangunan sosial. Bahkan, jelasnya, sebenarnya Menteri Negeri
Pemuda & Olahraga Adyaksa Dault & Menteri Negeri Urusan Koperasi &
Bisnis Mungil Menengah Suryadharma Ali ialah sebahagian mungil dari orang Indonesia
yg sempat meraih pendidikan manajemen pembangunan sosial di pascasarjana
UI. Paulus amat risau bersama perjalanan bangsa yg mutu interaksi
sosialnya kelihatannya cuma jalan di area. Menurut Paulus, tidak sedikit bibit
kreatif sumber daya manusia yg sudah dimatikan oleh kebijakan nasional yg tak
berpihak terhadap bisnis kreatif. Padahal, bisnis kreatif ini sanggup
memberikan sumbangan yg teramat agung bagi kemajuan bangsa.
4. Arief
Budiman
Tidak Sedikit yg
tak tahu bahwa Arief Budiman merupakan kakak kandung dari Soe Hok Gie yg wafat
dunia yang merupakan tokoh pergerakan mahasiswa. Lahir di Jakarta, 3
Januari 1941, dilahirkan dgn nama Soe Hok Djin, yaitu satu orang aktivis
demonstran Angkatan '66 dengan bersama adiknya, Soe Hok Gie. Terhadap dikala
itu beliau tetap jadi mahasiswa Fakultas Psikologi Kampus Indonesia di Jakarta.
Ayahnya seseorang jurnalis yg bernama Soe Lie Piet. Sejak periode
mahasiswanya, Arief telah aktif dalam kancah politik Indonesia, dikarenakan
dirinya ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan kepada th 1963 yg menentang
kegiatan LEKRA yg dianggap memasung kreativitas kaum seniman.
Kendati ikut melahirkan Orde Baru, Arief
bersikap amat kritis kepada politik pemerintahan di bawah Soeharto yg
memberangus oposisi & seterusnya diperparah bersama praktik-praktik
korupsinya. Kepada pemilu 1973, Arief & kawan-kawannya mencetuskan apa yg
dinamakan Golput atau Golongan Putih, yang merupakan tandingan Golkar yg
dianggap membelokkan harapan awal Orde Baru buat membuat pemerintahan yg
demokratis.Belakangan Arief "mengasingkan diri" di Harvard &
membawa gelar Ph.D. dalam ilmu sosiologi pula posting disertasi berkenaan
kesuksesan pemerintahan sosialis Salvador Allende di Chili.
Kembali dari
Harvard, Arief mengajar di UKSW (Kampus Kristen Satya Wacana) di Salatiga. Kala
UKSW dilanda kemelut yg berkepanjangan lantaran pemilihan rektor yg dianggap
tak adil, Arief laksanakan berakhir mengajar, dipecat & hasilnya hengkang
ke Australia juga menerima penawaran jadi profesor di Kampus
Melbourne. Terhadap bln Agustus 2006, dirinya menerima penghargaan Bakrie
Award, program tahunan yg disponsori oleh keluarga Bakrie & Freedom
Institute buat bagian penelitian sosial. Pasca kerusuhan Mei 1998, dgn
istri Leila Ch. Budiman bermukim & mengajar di Kampus Melbourne,
Australia.
5. Prof. Dr. Ir,
Sajogyo
(lahir di Karanganyar, 21 Mei 1926 –
wafat di Bogor, 17 Maret 2012 kepada usia 85 th) yaitu satu orang pakar ilmu
sosiologi & ekonomi yg serta tidak jarang dikenal yang merupakan
"Bapak Sosiologi Pedesaan" di Indonesia. Beliau turut meletakkan
dasar-dasar studi sosial-ekonomi pedesaan di Indonesia. Prof. Dr. Ir. Sajogyo
tumbuh, meniti & jadi pemimpin studi agraria Indonesia, dimulai dari
universitas IPB, sampai jadi Rektor IPB terhadap thn 1964. Dibesarkan dalam
kebiasaan ilmu sosial yg dikembangkan dari pertanian, Prof. Dr. Ir. Sajogyo
menyoal ekologi, pangan, gizi, tanah, agraria, yg kesemuanya berada dalam
konteks agri-culture (pembudidayaan), pula kawan kerja antara natura &
humana. Dia menghabiskan musim kanak-kanak sampai remajanya di sekian banyak
kota : Karanganyar, Bandung, Cepu, Barabai, Kediri, Banjarnegara, Purwakarta,
Solo, & Yogyakarta, mengikuti ayahnya bertugas yang merupakan seseorang
guru. Dia mulai sejak mengenal & bekerja buat pedesaan sejak th 1949 waktu
menuntut ilmu di Fakultas Pertanian UI di Bogor, atau sekarang dikenal dgn
Institut Pertanian Bogor (IPB).
Cowok yg pernah identik bersama jenggot
putih ini melahirkan 'garis kemiskinan Sajogyo'. Tuturnya, grup miskin
merupakan rumah tangga yg konsumsi pangan kurang dari nilai ganti 240 kg beras
setahun per kepala di pedesaan atau 369 kg di perkotaan. Dari sini diperoleh
angka kecukupan pangan 2.172 kg orang per hri. Maka utk angka dibawah itu
termasuk juga jenis miskin.
Terhadap 2011 Sajogyo mendapati Habibie
Award 2011 utk tipe ilmu sosial. Sajogyo mengabdikan ia utk ilmu wawasan.
Factor itu tercermin dikala dia mendirikan Sajogyo Institute yg ialah tubuh
pelaksana Yayasan Sajogyo Inti Mutlak yg didirikan terhadap thn 2005 dulu.
Sajogyo membangun institut ini dgn para kawan kerja, sohib, murid &
anak-anak belia yg terinspirasi oleh kepedulian, pemikiran & konsistensi
perjuangan yg panjang dalam mendalami dinamika warga petani & penghidupan
di pedesaan.
Angan-angan menuju penduduk yg cerdas
& merdeka terlampaui sempit diwadahi dalam satu kelembagaan, diterobos dari
satu segi, & dilakukan oleh aktor-aktor yg terpisah. Angan-angan itu yaitu
harapan gede kita seluruhnya, membangun Keindonesiaan yg cerdas & merdeka :
“...Slamatkan tanahnya, slamatkan puteranya, pulaunya, lautnya semuanya.
Indonesia Raya, merdeka merdeka, hiduplah Indonesia Raya..!”
6. Mochtar Naim
Lahir
di Nagari Sungai Penuh, Kerinci, Jambi, 25 Desember 1932; yakni antropolog
& sosiolog Indonesia. Tidak Hanya sbg sosiolog terkenal, Mochtar Naim
tampil kemuka yang merupakan ahli Minangkabau. Dalam sekian banyak seminar
& tulisan-tulisannya, Mochtar kerap membagi budaya Nusantara pada dua
gagasan aliran. Polarisasi budaya yg digambarkan Mochtar ialah ide budaya yg
bercirikan sentrifugal yg diwakili oleh budaya m(Minangkabau), berlawanan
bersama gagasan budaya sentripetal-sinkretis yg diwakili oleh budaya J
(Jawa).
Beliau
menamatkan studi sarjananya ke tiga kampus sekaligus, Kampus Gadjah Mada,
PTAIN, & Kampus Islam Indonesia, yg kesemuanya di Yogyakarta. Selanjutnya
studi masternya dilanjutkan di Kampus McGill, Montreal. Melengkapi jenjang
pendidikannya, Mochtar membawa gelar PhD-nya di University of Singapore.
Mochtar tertulis sbg
pendiri Fakultas Sastra Kampus Andalas, 1980, & sejak itu dia jadi dosen
sosiologi kampus yg sama. Sebelum itu dia sempat duduk yang merupakan Direktur
Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Kampus Hasanuddin di Makassar, &
Direktur Center for Minangkabau Studies, Padang.
7. CLAUDE MONET
Lukisan Claude Monet Le Bassin aux Nympheas
terjual dengan harga US $ 80,5 juta atau sekitar Rp 885,5 miliar dalam
lelang di London, Inggris. Ini sekaligus memecahkan rekor lukisan termahal oleh
pelukis yang sama.
Claude Oscar
Monet lahir 14 November 1840 di Paris, Perancis, Wafat5 Desember 1926 (umur 86)
di Giverny, Perancis. Pelukis warga negara Perancis ini penganut aliran
impresionisme. Awal April 1851 Monet memasuki sekolah Le Havre. Ia segera
terkenal dengan karikatur-karikatur carchoalnya. Pada Juni 1861 Monet bergabung
dengan pasukan Resimen I Kavaleri Ringan Afrika di Aljazair selama dua tahun
dari tujuh tahun masa wajib militer.
Masa wajig
militer telah di jalani, kemudian Claude Monet kembali ke dunia lukisan, yakni
bergabung dengan studio Charles Gleyre di Paris, dan kemudian bertemu Pierre-Auguste
Renoir, Frederic Bazille, dan Alfred Sisley. Kemudian mereka bersama
mengembangkan teknik baru dalam seni rupa dengan melukis berdasarkan efek-efek
pantulan cahaya yang ditangkap mata, konsep dasar awal dari aliran
Impresionisme yang kita kenal. Banyak karya terbaik Monet dihasilkan pada saat
tinggal di Argenteuil, desa di Seine di dekat Paris antara tahun 1871 hingga
1878.
Langganan:
Postingan (Atom)







