Selasa, 26 April 2016

Makalah Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesustraan

KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSASTRAAN
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar



Disusun Oleh:
·         AMALIA ZATI A.                            (50415608)
·         HETY NURBAETI                            (57415468)
·         LARAS NISRINA W.                       (53415786)
·         NUR AIDA DWIYANTI                  (55415162)
·         TAMIMAH ZULAFA N A               (56415804)
Kelas 1IA04




Fakultas Teknologi Industri
Jurusan Teknik Informatika
Universitas Gunadarma
Tahun Ajaran : 2015/2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya lah sehinggga kami bisa menyelesaikan tugas paper dengan judul “Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kesusastraan” ini guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Seiring dengan terselesaikannya tugas paper ini, maka kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan partisipasinya dalam bentuk apapun dalam proses penyusunan paper ini.
Semoga paper ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Gunadarma. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi materi maupun tata bahasa dalam paper ini. Oleh karena itu dengan kami menerima segala saran dan kritik dari dosen maupun pembaca lain agar kami dapat memperbaiki paper ini.




Depok,            Maret 2016





Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang........................................................................................................................ 1
   Rumusan Masalah................................................................................................................... 1
Tujuan Penulisan..................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
Pendekatan Kesusastraan....................................................................................................... 2
    Ilmu Budaya Dasar Dihubungkan dengan Prosa..................................................................... 4
    Nilai-nilai dalam prosa fiksi.................................................................................................... 5
    Ilmu Budaya Dasar Dihubungkan dengan Puisi.................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................. 8


BAB I
PENDAHULUAN

I.1.        Latar Belakang
Keutuhan manusia sebagai pribadi dapat dimungkinkan melalui pemahaman, penghayatan, dan meresapkan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu karya seni rupa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi pikiran, perasaan dan kemauan secara naluriah memerlukan prantara budaya untuk menyatakan rasa seninya, baik secara aktif dalam kegiatan kreatif, maupun secara pasif dalam kegiatan apresiatif. Dalam kegiatan apresiatif, yaitu mengadakan pendekatan terhadap seni rupa seolah-olah kita memasuki suatu alam rasa yang kasat mata. Seni rupa sebagai karya seni yang nampaknya rupa seolah-olah hanya dapat dihayati dengan indra mata. Maka itu kadang-kadang seni rupa itu lebih disamakan dengan seni visual.

I.2.        Rumusan Masalah
1.   Bagaimanakah pendekatan kesustraan itu?
2.   Apa saja ilmu budaya dasar yang dihubungkan dengan prosa?
3.   Bagaimana nilai-nilai dalam pola fisik?
4.   Apa saja ilmu budaya dasar yang dihubungkan dengan puisi?
I.3.        Tujuan Penulisan
Tujuan dari karya ilmiah ini adalah bagaimana mahasiswa dapat memahami dan menegerti tentang konsepsi ilmu budaya dasar dalam kesussatraan.



BAB II
PEMBAHASAN


II.1.       Pendekatan Kesusastraan

A. Pengertian sastra
Secara etimologis kata sastra berasal dari bahasa sansekerta, dibentuk dari akar kata sas- yang berarti mengarahkan, mengajar dan memberi petunjuk. Akhiran –tra yang berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk..Secara harfiah kata sastra berarti huruf, tulisan atau karangan. Kata sastra ini kemudian diberi imbuhan su- (dari bahasa Jawa) yang berarti baik atau indah, yakni baik isinya dan indah bahasanya. Selanjutnya, kata susastra diberi imbuhan gabungan ke-an sehingga menjadi kesusastraan yang berarti nilai hal atau tentang buku-buku yang baik isinya dan indah bahasanya.Selain pengertian istilah atau kata sastra di atas, dapat juga dikemukakan batasan / defenisi dalam berbagai konteks pernyataan yang berbeda satu sama lain. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa sastra itu bukan hanya sekedar istilah yang menyebut fenomena yang sederhana dan gampang. Sastra merupakan istilah yang mempunyai arti luas, meliputi sejumlah kegiatan yang berbeda-beda. Kita dapat berbicara secara umum, misalnya berdasarkan aktivitas manusia yang tanpa mempertimbangkan budaya suku maupun bangsa. Sastra dipandang sebagai suatu yang dihasilkan dan dinikmati. Orang-orang tertentu di masyarakat dapat menghasilkan sastra. Sedang orang lain dalam jumlah yang besar menikmati sastra itu dengan cara mendengar atau membacanya.Batasan sastra menurut PLATO, adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauhdari dunia ide.ARISTOTELES murid PLATO memberi batasan sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Menurut kaum formalisme Rusia, sastra adalah sebagai gubahan bahasayang bermaterikan kata-kata dan bersumber dari imajinasi atau emosi pengarang. Rene Welleck dan Austin Warren, memberi defenisi bahasa dalam tiga hal :
1. Segala sesuatu yang tertulis
2. Segala sesuatu yang tertulis dan yang menjadi buku terkenal, baik dari segi isi
    maupun bentuk kesusastraannya
3. Sebagai karya seni yang imajinatif dengan unsur estetisnya dominan dan
    bermediumkan bahasa.

B. Pengertian Seni
Dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam kekriaan yang artistik. Cilpacastra yang banyak disebut-sebut dalam pelajaran sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman bagi para cilpin, yaitu tukang, termasuk di dalamnya apa yang sekarang disebut seniman. Memang dahulu belum ada pembedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi belum ada dan seni adalah ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian itu ternyata tidak hanya terdapat di India dan Indonesia saja, juga terdapat di Barat pada masa lampau.
Dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah teknik atau craftsmanship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan atau kemahiran; dan artista adalah anggota yang ada di dalam kelompok-kelompok itu. Maka kiranya artista dapat dipersamakan dengan cilpa.
Ars inilah yang kemudian berkembang menjadi l’arte (Italia), l’art (Perancis), elarte (Spanyol), dan art (Inggris), dan bersamaan dengan itu isinyapun berkembangan sedikit demi sedikit kearah pengertiannya yang sekarang. Tetapi di Eropa ada juga istilah-istilah yang lain, orang Jerman menyebut seni dengan die Kunst dan orang Belanda dengan Kunst, yang berasal dari akar kata yang lain walaupun dengan pengertian yang sama. (Bahasa Jerman juga mengenal istilah die Art, yang berarti cara, jalan, atau modus, yang juga dapat dikembalikan kepada asal mula pengertian dan kegiatan seni, namun demikian die Kunst-lah yang diangkat untuk istilah kegiatan itu).
Dari dulu sampai sekarang karya sastra tidak pernah pudar dan mati. Dalam kenyataan karya sastra dapat dipakai untuk mengembangkan wawasan berpikir bangsa. Karya sastra dapat memberikan pencerahan pada masyarakat modern. ketangguhan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Di satu pihak, melalui karya sastra, masyarakat dapat menyadari masalah-masalah penting dalam diri mereka dan menyadari bahwa merekalah yang bertanggung jawab terhadap perubahan diri mereka sendiri.
Sastra dapat memperhalus jiwa dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk berpikir dan berbuat demi pengembangan dirinya dan masyarakat serta mendorong munculnya kepedulian, keterbukaan, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sastra mendorong orang untuk menerapkan moral yang baik dan luhur dalam kehidupan dan menyadarkan manusia akan tugas dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan memiliki kepribadian yang luhur.
Selain melestarikan nilai-nilai peradaban bangsa juga mendorong penciptaan masyarakat modern yang beradab (masyarakat madani) dan memanusiakan manusia dan dapat memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, melatih kecerdasan emosional, dan mempertajam penalaran seseorang.
Sastra tidak hanya melembutkan hati tapi juga menumbuhkan rasa cinta kasih kita kepada sesama dan kepada sang pencipta. Dengan sastra manusia dapat mengungkapkan perasaan terhadap sesuatu jauh lebih indah dan mempesona.

C. Hubungan Antara Sastra, Seni Dengan Ilmu Budaya Dasar
Masalah sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan ilmu budaya dasar, karena materi – materi yang diulas oleh ilmu budaya dasar ada yang berkaitan dengan sastra dan seni.Budaya Indonesia sanagat menunjukkan adanya sastra dan seni didalamnya.
Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut :
1.      kenyataan bahwa bangsa indonesia berdiri atas suku bangsa dengan segala  
keanekaragaman budaya yg tercemin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yg biasanya tidak lepas dari ikatan2 primordial, kesukaan, dan kedaerahan .
2.      Proses pembangunan yg sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan
dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya .
3.      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan kondisi
kehidupan mausia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yg telah diciptakannya .

II.2.       Ilmu Budaya Dasar Yang Dihubungkan Dengan Prosa

Prosa berasal dari bahasa latin "prosa" yang artinya "terus terang", yang merupakan karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita secara bebas, yang tidak terikat rima dan irama. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

Jenis-jenis prosa ;
1.      Dongeng
Dongeng merupakan cerita yang banyak diwarnai peristiwa yang tidak masuk akal atau tidak mungkin terjadi. Contoh: Pangeran Buruk Rupa, Si Kancil dan Buaya
2.      Cerpen
Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa.
3.      Novel
Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh.
4.      Biografi
Biografi adalah riwayat yang ditulis oleh orang lain.
5.      Esai
Esai merupakan karangan yang berisi ujaran populer dan dengan pola penyajian yang bersifat santai. Ulasan-ulasannya bersifat pribadi, akrab, dan asyik dibaca layaknya obrolan biasa.
6.      Kritik
Kritik merupakan tanggapan atau pertimbangan atas baik buruknya suatu karya (puisi, cerepn, drama, dsb). Kritik biasanya disertai dengan analisis dan kesimpulan-kesimpulan.
7.      Artikel
Artikel adalah karya tulis lengkap yang dimuat di Koran, majalah, atau internet.

Komponen dalam prosa lama ;
1.      Pantun adalah bentuk puisi yang terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (pola ab-ab), dan biasanya, tiap baris terdiri atas empat perkataan.
2.      Gurindam adalah puisi Melayu lama yang terdiri dari dua larik (baris), mempunyai irama akhir yang sama dan merupakan satu kesatuan yang utuh.
3.      Mantera adalah merupakan satu daripada genra puisi Melayu tradisional yang diwarisi sejak zaman primitif, prasejarah, animisme.
4.      Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris).
5.      Sage merupakan cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang.




Komponen dalam prosa baru ;
1.      Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif, biasanya dalam
bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa italia novella yang berarti "sebuah kisah, sepotong berita".
2.      Biografi adalah kisah atau keterangan tentang kehidupan seseorang. Sebuah
biografi lebih kompleks daripada sekedar daftar tanggal lahir atau mati dan data-data pekerjaan seseorang, biografi juga bercerita tentang perasaan yang terlibat dalam mengalami kejadian-kejadian tersebut.
3.      Cerpen adalah cerita yang berbentuk naratif. Jadi cerpen bukan argumentasi atau
analisa atau deskripsi.
4.      Drama adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari bahasa yunani yang berarti "aksi", "perbuatan".
5.      Soneta adalah salah satu bentuk sastra baru yang berasal dari Italia. Soneta masuk
ke dalam sastra Indonesia baru.

II.3.       Nilai-nilai Dalam Prosa Fiksi
Prosa fiksi merupakan sebuah bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk bahasa yang tidak terikat oleh jumlah kata dan unsur musikalitas. Bahasa yang tidak terikat itu digunakan untuk menyampaikan tema atau pokok persoalan dengan sebuah amanat yang ingin disampaikan berkenaan dengan tema tersebut. Oleh karena itu, dalam apresiasi dengan tujuan tnembenkan penghargaan terhadap karya prosa itu, kita haruslah bisa “membongkar” dan menerangjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan ukuran keindahan dan “kelebihan” karya prosa itu.

Nilai-nilai dalam prosa fiksi :
1.      Nilai penikmatan atau menyenangi. Tindakan operasionalnya pada tahap ini adalah misahiya membaca karya sastra (puisi maupun novel}, menghadiri acara deklamasi, dan sebagainya.
2.      Nilai penghargaan. Tindakan operasionalnya, antara lain, melihat kebaikan, nilai, atau manfaat suatu karya sastra, dan merasakan pengaruh suatu karya ke dalam jiwa, dan sebagainya.
3.      Nilai pemahaman. Tindakan opersionalnya adalah meneliti dan menganalisis unsur intrinsik dan unsur ektrinsik suatu karya: astra, serta berusaha menyimpulkannya.
4.      Nilai penghayatan. Tindakan operasionalnya adalah rnenganalisis lebih lanjut akan suatu karya, mencari hakikat atau makna suatu karya beserta argumentasinya; membuat tafsiran dan menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah dibuat.
5.      Nilai penerapan. Tindakan operasionalnya adalah mclahirkan ide baru, mengamalkan penemuan, atau mendayagunakan hasil operasi dalam mencapai material, moral, dan struktural untuk kepentingan sosial, politik, dan budaya.

Contoh Karya Sastra:
1. Mahabarata dan Ramayana
2. Siti Nurbaya
3. Salah Asuhan
4. Sengsara Membawa Nikmat

Contoh Prosa:
- Contoh novel :Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus.
- Contoh cerpen :Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani, Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.
- Contoh biografi :Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.I Habibie, Ki Hajar Dewantara.

II.4.       Ilmu Budaya Dasar Yang Dihubungkan Dengan Puisi
Puisi termasuk seni sastra, sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian cabang unsur dari kebudayaan. puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai kehidupan manusia, alam, tuhan melalui media bahasa yang artistik/estetik, nyang secara padu dan utuh di padatkan kata-katanya.
Kepuitisan, keartistikan atau keestetikan bahasa puisi disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan:
·         Figura bahasa, seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori, dsb.
·         Kata-kata yang ambiquitas, yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
·         Kata-kata yang berjiwa, yaitu kata-kata yang sudah di beri suasana tertentu, berisi perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
·         Kata-kata yang konotatif, yaitu kata-kata yang sudah di beri tambahan nilai-nilai rasa dan asosiasi-asosiasi tertentu. Pengulangan, yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang di lukiskan, sehingga lebih menggugah hati.

Adapun alasan-alasan yang mendasari penyajian yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan ilmu budaya dasar adalah :
·         Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia.
·         Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.
·         Puisi dan keinsyafan sosial.
Macam-macam puisi dibedakan berdasarkan zaman:
Puisi baru : Puisi yang muncul karena pengaruh sastra barat. Puisi baru adalah puisi yang lebih bebas dalam penggunaan rima, pilihan kata, serta irama.
Puisi Lama : Puisi yang mengikuti ketentuan umum pada puisi seperti, rima, irama, dan baris.

Jenis puisi lama :
·         Mantra
·         Karmina (Pantun singkat)
·         Talibun
·         Syair
·         Gurindam
Puisi Modern : Puisi bebas yang muncul pada tahun awal kemerdekaan yang dipelopori oleh Chairil Anwar. Puisi ini tidak mengutamakan bentuk puisi namun lebih mengutamakan isi dan makna dari puisi tersebut.



Kepuitisan atau keartistikan puisi dapat dibangun menggunakan :
·         Figura Bahasa (personifikasi, hiperbola, metafora, dll)
·         Kata - kata ambigu
·         Kata-kata yang mengandung perasaan dan pengalaman penyair
·         Kata - kata konotatif
·         Pengulangan untuk mengintensifkan hal yang dilukiskan
Contoh Puisi :

Lagu Siul - Chairil Anwar

Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
'Ku layak tidak tahu saja





DAFTAR PUSTAKA


http://jurnalapapun.blogspot.com/2014/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_13.html


Mind Map


Prosa

TIMUN MAS
Alkisah ada sebuah rumah kecil di pinggir hutan rimba hiduplah seorang perempuan bernama Mbok Dhadap yang berusia paruh baya yang hidup sebatangkara tanpa teman dan saudara. Mbok Dhadap sangat mendambakan kehadiran seorang anak untuk menemaninya. Setiap hari ia berdoa agar mendapatkan seorang anak untuk menemaninya.           
 Suatu hari ketika sedang mencari kayu di hutan, Mbok Dhadap bertemu dengan Raksasa penguasa hutan rimba tersebut yang gemar memakan manusia. Mbok Dhadap gemetar menahan takut, karena tak kuasa menahan rasa takut, Mbok Dhadap tidak sadar bahwa kain jaritnya basah karena kencing. Raksasa itu tertawa lebar, suaranya bergemuruh memenuhi angkasa dan memekakkan gendang telinga. “Hua..ha...ha... GGGrrrrrrrhhhhhh.....!!!!!, Hai Perempuan Tua !!! kau jangan takut padaku... mendekatlah aku ingin menitipkan sesuatu untukmu....” Mbok Dhadap tertunduk, masih menahan rasa takut yang tak terkira. “Raksasa... kau jangan memakan aku, aku sudah tua....” Lagi-lagi Raksasa itu tertawa... “Hua..ha....ha... aku tidak doyan daging perempuan tua sepertimu, selain tidak enak rasanya, aku yakin pasti banyak kumannya....hi.... ngeri.... Hua..ha...ha....” Mbok Dhadap mulai tenang, karena mengetahui Raksasa itu tidak akan memakannya. “Kau benar sekali wahai Raksasa..., aku memang jarang mandi, sehingga pasti banyak kumannya, kau akan sakit bila memakan aku... apa yang hendak kau titipkan kepadaku Wahai Raksasa ?” Sang Raksasa kembali tertawa.. “Hua..ha... ha... Mbok Dhadap kau lucu sekali ternyata... aku mau menitipkan seorang bayi manusia kepadamu, tapi dengan syarat bahwa 15 tahun lagi anak ini akan kuambil untuk kujadikan mangsa... apakah kau sanggup memenuhi syarat itu??? Mbok Dhadap hanya terdiam, hatinya sebenarnya gembira mendapat tawaran itu, akan tetapi bagaimana kalau Raksasa itu mengambil anak itu kelak??? Raksasa itu menggeram.... “GGGrrrrrrhhhhhh..... Bagaimana Mbok Dhadap??!!
 Kalau kau tidak sanggup, anak ini akan ku buang!!!!” Mendengar itu seketika Mbok Dhadap kaget... “i..iii..yaaa!!!! aku sanggup memenuhi persayaratan itu, sekarang serahkan bayi itu kepadaku...”. Akhirnya Raksasa itu menyerahkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik, kulitnya bersih, Mbok Dhadap terpukau melihat bayi perempuan itu. “HHHHmmmmmmhhh... cantiknya bayi ini....” “GGgrrrrrhhhh... Ingatlah Mbok Dhadap, 15 tahun lagi aku akan datang untuk mengambil anak ini... ingatlah itu Mbok Dhadap... HHHHhmmmhhhh.... Hua..ha..ha...” kemudian Raksasa itu pergi meninggalkan Mbok Dhadap dan bayi itu. *** Mbok Dhadap memberi nama bayi perempuan itu Timun Mas, karena kulitnya yang bersih dan berkilau laksana emas. Mbok Dhadap sangat menyayangi Timun Mas, Dia merawatnya dengan penuh kasih dan cinta. Mbok Dhadap tidak merasa sepi lagi, ada Timun Mas yang menemaninya sekarang. Meskipun bukan anak kandungnya sendiri, Mbok Dhadap telah menganggap Timun Mas sebagai anaknya. Timun Mas memanggil Mbok Dhadap dengan sebutan Biyung yang berarti Ibu. Waktu terus berjalan tanpa henti, tanpa terasa 15 tahun sudah berlalu.
Timun Mas tumbuh menjadi sosok gadis yang anggun dan rupawan, parasnya cantik, rambutnya yang lebat terurai panjang sehingga semakin memancarkan aura kecantikannya. Menjelang waktu yang telah dijanjikan Mbok Dhadap merasa sedih dan bingung lalu memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menyelamatkan Timun Mas. Hingga suatu ketika doanya dijawab lewat mimpi. Dalam mimpinya, Mbok Dhadap diminta memberikan tiga jenis barang untuk dibawa Timun Mas ketika dikejar Raksasa jahat itu yaitu biji mentimun, jarum dan sepotong terasi. Mbok Dhadap segera menyiapkan ketiga barang tersebut untuk diberikan kepada Timun Mas. Akhirnya dengan rasa sedih yang amat sangat, Mbok Dhadap menceritakan permasalahan itu kepada Timun Mas. “Anakku, Timun Mas... Biyung tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkanmu, 15 tahun yang lalu Raksasa itu menitipkanmu kepadaku, sekarang waktu itu telah tiba... Raksasa itu akan datang membawamu... Timun Mas jaga dirimu Nak...” Ujar Mbok Dhadap sambil terisak menangis.
Timun Mas merasa bersedih karena harus meninggalkan biyungnya sendiri, ia tak sampai hati meninggalkan orang yang telah merawatnya dari kecil hingga dewasa tersebut. “Biyung... aku mau di sini saja menemani Biyung, merawat Biyung, aku tidak takut kepada Raksasa itu Biyung...” Timun Mas terisak meneteskan air mata, kemudian keduanya berpelukan erat. Mbok Dhadap hanya menghela nafas panjang, ada kegalauan yang sangat di dalam hati Mbok Dhadap. “Timun Mas anakku, jangan kau khawatirkan Biyung, Raksasa itu tidak akan memangsa biyung, karena Dia hanya menginginkanmu, sudah...........” Belum sampai kalimat Mbok Dhadap selesai tiba-tiba terdengar suara keras dari luar rumah.... “GGGGggggrrhhh!!!!!! Mbok Dhadap!!!! Keluarlah!!!! Aku datang menagih janji kepadamu!!!, serahkan anak itu kepadaku untuk kumangsa!!!! Mbok Dhadap!!! Keluarlah!!!” “Timun Mas anakku, cepatlah kau pergi Nak!!!... tidak ada waktu lagi, segera pergilah lewat pintu belakang... ingatlah baik-baik pesan Biyung... pertama kali sebarkan biji mentimun ini mana kala Raksasa itu mendekat,
lalu jika Ia mendekat lagi lemparkan jarum ini kepada Raksasa itu dan jika ia masih mendekat lagi lemparkan terasi ini anakku, cepatlah kau pergi anakku, selamatkanlah dirimu, percayalah... Biyung akan baik-baik saja”. Dengan penuh rasa haru dan sedih Timun Mas segera berlari keluar dan meninggalkan rumah Mbok Dhadap untuk menyelamatkan dirinya. Sedangkan Mbok Dhadap keluar menemui Raksasa jahat yang lapar itu. “Ada apa Raksasa??, bukankah masih lama waktu 15 tahun itu???” Mbok Dhadap mencoba mengulur waktu agar Timun Mas dapat selamat dari ancaman Raksasa itu. “Ggggrrgggghhhh!!!!, aku tidak mungkin salah... hari ini adalah genap 15 tahun semenjak aku menyerahkan bayi itu kepadamu, sekarang serahkan bayi itu kepadaku!!!!” “Dia tidak ada di sini Raksasa, percayalah, dia sudah mati beberapa tahun lalu...”
 Mbok Dhadap mencoba membohongi Raksasa itu. “Tidak Mungkin, aku masih bisa mencium bahwa bayi itu masih hidup, sekarang serahkan kepadaku atau aku akan memaksamu !!!” dan saat itu, Raksasa melihat ada seorang gadis yang berlari kencang meninggalkan rumah itu. “GGGGrrrrrrrrrGggghhhhh!!! Jangan kira kau bisa membohongiku Mbok Dhadap, itu dia bayi itu!!!, wahh anak itu pasti lezat sekali.... aku akan mengejarnya !!!” Raksasa itu segera berlari mengejar Timun Mas tanpa menghiraukan Mbok Dhadap yang menjerit histeris memohon agar Raksasa itu tidak mengejar Timun Mas. *** Timun Mas berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Mbok Dhadap, namun sekencang-kencangnya Timun Mas berlari, kecepatannya tidak sebanding dengan kecepatan lari Raksasa itu dengan terengah-engah Timun Mas meilhat bahwa Raksasa itu kian mendekat. “Celaka, Raksasa itu cepat sekali larinya... bagaimana ini???” Timun Mas bingung dan takut dan pasrah. Raksasa itu semakin dekat, semakin dekat dan sekarang hanya berjarak puluhan meter dari Timun Mas yang masih mencoba berlari.
 Di tengah kebingungan dan rasa takutnya, Timun Mas ingat pesan Biyungnya untuk menyebarkan biji timun pertama kali manakala Raksasa itu mendekat.Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera saja Timun Mas menyebarkan biji mentimun itu ke hadapan Raksasa itu. Ajaib, seketika itu juga, biji timun yang disebar oleh Timun Mas itu berubah menjadi hutan mentimun yang dengan buah yang ranum dan segar sehingga membuat Raksasa itu terpana melihat keranuman buah mentimun yang membentang dihadapannya. “Wah.... ranum benar mentimun ini, kebetulan aku sedang haus dan lapar... “ Raksasa seperti terhipnotis sehingga memutuskan untuk menikmati buah mentimun itu tanpa mengingat lagi bahwa Ia sedang mengejar Timun Mas. “Kres!!..Kres!!!... Nyam, Nyam.... Wah !!! Segar sekali mentimun ini !!!, huahhhhh!!! Nikmat sekali...”. Melihat keajaiban itu.
Timun Mas tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ia terus berlari kencang meninggalkan Raksasa yang kelaparan itu. Waktu terus berlalu, Raksasa itu rupanya terlena dengan kesegaran buah mentimun yang menghampar di hadapannya, sekian lama ia memakan buah mentimun itu kemudian ia tersadar dari pengaruh hipnotis buah mentimun itu. “Hua...... kurang ajar, rupanya aku terhipnotis hutan mentimun ini.... di mana anak itu.... Hai, berhenti !!!” Raksasa itu segera berlari mengejar Timun Mas. Tak berapa lama waktu berjalan, Raksasa itu telah berhasil mendekati Timun Mas kembali. Karena Raksasa itu kian mendekat, Timun Mas segera melemparkan jarum itu kepada Raksasa itu. Benar-benar ajaib, jarum yang dilempar itu seketika berubah menjadi hutan bambu yang lebat dan penuh duri, sehingga menyulitkan Raksasa itu untuk mengejar Timun Mas. Melihat itu, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Raksasa jahat yang terjebak dalam hutan bambu yang lebat dan penuh duri itu. Harapannya hanya satu yaitu agar lolos dari cengkeraman Raksasa jahat itu. Timun Mas terus saja berlari menjauh, sedangkan Raksasa jahat mengalami kesulitan untuk menembus hutan bambu yang penuh duri itu, namun dengan kekuatannya, akhirnya Raksasa itu berhasil menembus hutan bambu berduri itu dan kembali mengejar Timun Mas. Tak berselang lama, Raksasa itu telah berhasil mendekati Timun Mas Kembali. Melihat itu semua, Timun Massudah pasrah dan putus asa dan yakin bahwa Raksasa itu akan berhasil menangkapnya. “Oh Tuhan... apakah benar ini takdirku ? Tertangkap Raksasa dan mati di tangannya..... Oh Tuhan tolonglah aku... Siapa yang akan merawat Biyung nanti ?... Oh Tuhan......” Timun Mas Menangis sedih. Di sela-sela keputus asaannya itu, tiba-tiba Timun Mas teringat bahwa ia masih mempunyai satu senjata lagi yaitu sepotong terasi, sehingga begitu Raksasa itu mendekat, Timun Mas segera melemparkan sepotong terasi itu kepada Raksasa itu. Benar-benar ajaib, sepotong terasi yang ia lemparkan berubah menjadi sebuah lautan lumpur yang dalam, sehingga Raksasa itu terperosok ke dalamnya.

Semakin lama Raksasa itu berontak, semakin tenggelam pula tubuhnya, hingga akhirnya tubuh Raksasa itu benar-benar tenggelam dan matilah Raksasa jahat itu ditelan lautan lumpur tersebut. Timun Mas menghela nafas panjang, rasa lega, letih dan bahagia menyelimuti hatinya. Tak henti-hentinya Timun Mas bersyukur karena doa dan harapannya dikabulkan Tuhan, Timun Mas yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan setiap doa mahluknya apabila berdoa dengan tulus dan kesungguhan hati dan berusaha dengan keyakinan penuh. Tanpa menunggu lama Timun Mas memutuskan kembali kerumah Mbok Dhadap dan akhirnya mereka berdua hidup bahagia dalam nuansa kasih sayang antara orang tua dan anak.